Berikut adalah strategi PGRI dalam menopang arah transformasi sekolah:
1. Penopang Kompetensi Masa Depan (SLCC)
Transformasi sekolah sering kali dimulai dari digitalisasi. PGRI memastikan guru bukan hanya menjadi pengamat, melainkan pengendali teknologi.
2. Penopang Kedaulatan dan Rasa Aman (LKBH)
Sekolah tidak bisa bertransformasi jika ekosistemnya dipenuhi rasa takut. Inovasi membutuhkan keberanian.
3. Penopang Moral dan Integritas (DKGI)
Di tengah arus transformasi global, sekolah berisiko kehilangan identitas budayanya. PGRI hadir sebagai kompas etika.
Integritas Digital: Melalui DKGI (Dewan Kehormatan Guru Indonesia), PGRI memastikan transformasi sekolah juga mencakup etika digital. Guru didorong untuk menjadi model integritas, memastikan bahwa nilai-nilai kejujuran tetap menjadi standar utama dalam penggunaan teknologi di sekolah.
Marwah Pendidik: PGRI menjaga agar guru tetap dihormati sebagai aktor intelektual utama di sekolah, bukan sekadar fasilitator teknis yang perannya bisa digantikan oleh mesin.
4. Penopang Solidaritas Unitaristik (Satu Jiwa)
Transformasi sekolah akan gagal jika terjadi perpecahan di dalam ruang guru.
Sinergi Tanpa Kasta: PGRI menopang sekolah dengan menyatukan seluruh guru (ASN, PPPK, Honorer) dalam semangat “Satu Rasa, Satu Jiwa”. Transformasi berjalan lebih cepat ketika semua lini pendidik bergerak dalam irama yang sama tanpa merasa terpinggirkan oleh status.
Kekuatan Ranting sebagai Basis: PGRI memperkuat struktur di tingkat Ranting (sekolah) agar menjadi sistem pendukung (support system) bagi kesehatan mental guru, memastikan setiap pendidik tangguh menghadapi tekanan perubahan.
Tabel: Instrumen PGRI dalam Transformasi Sekolah
| Dimensi Transformasi | Tantangan Sekolah | Penopang dari PGRI |
| Metode Belajar | Gagap teknologi & kaku. | Pelatihan AI & Pedagogi via SLCC. |
| Iklim Kerja | Ketakutan akan risiko hukum. | Advokasi & Perlindungan via LKBH. |
| Budaya Sekolah | Degradasi moral digital. | Penegakan Kode Etik via DKGI. |
| Sumber Daya | Fragmentasi status guru. | Solidaritas dalam Unitarisme. |
Kesimpulan:
PGRI adalah “tiang penyangga” bagi rumah besar bernama sekolah. Dengan menopang aspek kompetensi, keamanan, etika, dan persatuan, PGRI memastikan bahwa transformasi pendidikan tidak merobohkan semangat guru, melainkan justru memperkokoh wibawa sekolah dalam mencetak generasi emas.

